HASIL PERKULIAHAN MATA KULIAH TAFSIR TARBAWI
A1-F4
Disusun guna Memenuhi Tugas Ulangan Tengah Semester
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : M. Hufron, M.S.I

Disusun Oleh :
Siti Aminah (2117233)
KELAS C
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018
A. KEDUDUKAN ILMU PENGETAHUAN
A1 . Kesaksian Allah (QS.Ali-Imran, 3:18)
a.
Teori
llmu Pengetahuan dan Sains dalam Kesaksian Allah
Arti ilmu :
Ilmu sudah menjadi kata indonesia sehari-hari dalam bahasa jawa juga dikenal
dengan istilah ngelmu. Keduanya Berasal dari kata yang sama, ngelmu kata yang
berasal dari bahasa arab dalam pengertian sehari-hari, yang pertama berkaitan
dengan pengetahuan efinisikan sebagai jenis pengetahuan tapi bukan sembarang
pengetahuan melainkan pengetahuan yang diperoleh dengan cara-cara berdasarkan
kesepakatan diantara para ilmuan, ilmu ini pada umumnya dibagi menjadi 3 bidang
yaitu : ilmu-ilmu pasti, ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Ilmu adalah
pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut
metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala
tertentu dibidang pengetahuan. Di dalam agama islam ilmu menempati kedudukan
yang sangat penting hal ini terlihat
bahwa Al Qur’an yang memandang orang yang berilmu dalam posisi yang tinggi dan
mulia disamping hadis-hadis nabi yang memberi dorongan bagi umatnya untuk terus
menuntut ilmu. Mempelajari ilmu telah
meningkatkan pengetahuan dan penelitian yang menyebabkan tumbuhnya berbagai
cabang ilmu pengetahuan, dan telah mengungkapkan berbagai aspek dari jagad
raya. Namun semua ilmu pengetahuan itu disatukan dengan sempurna melalui
pengamatan terhadap alam semesta yang diciptakan dan dikendalikan oleh maha
pencipta Allah SWT, berbagai hasilnya dalam berbagai ragam bentuk contohnya
kosmologi dan kosmografi sampai ilmu kimia. Ilmu-ilmu tersebut menghubungkan
pada mata rantai ilmu pengetahuan dan sains dengan berbagai macam ilmu dikembangkan tanpa
menganggu keutuhannya, Al Qur’an menunjukan proses dasar pembentukan alam
semesta dalam jagad raya sebagai hasilnya.[1]
Kata sains dan
berbagai turunya sering digunakan dalam Al-Qur’an dalam arti umum(knowledge)
termasuk makna sains alam dan kemanusiaan.
Dan mereka bertemu
seorang hamba diantara hamba-hamba kami, yang telah kami berikan kepadanya
rahmat dari sisi kami, dan yang telah kamiajarkan kepadanya ilmu dari sisi
kami.
Dengan demikian
dalam pandangan islam menuntut ilmu adalah
suatu pencarian religius yang wajib dilakukan setiap muslim yang pada
hakikatnya hal ini adalah keperluan manusia untuk menyelaraskan dan
keseimbangan dalam menjalankan kehidupan. Dari berbagai ayat Al-Qur’an dan
hadist diatas secara tegas menunjukan bahwa menuntut ilmu dalam pengetahuan pandangan
islam bukan hanya ditunjukan pada ilmu agama.hal ini ditunjukan oleh ungkapan
“negeri cina” cina tentunya bukan tempat yang tepat untuk mempelajari
ajaran-ajaran islam mengingat tingkat kesulitanya yang tinggi untuk mencapai kenegri cina, memerlukan
perjuangan yang berat.[2]
Cinta tanah air adalah bagian dari iman berbunyi “Hubb al-wathan mina al-iman”
menunjukan Cinta tanah.
Islam pernah
mencatat pencapaian sains yang ditandai oleh perkembangan tradisi intelektual
dan kekuatan spirit ilmu pengetahuan yang didasari oleh filsafat ketauhidan dan
ajaran dal Al Qur’an yang dibawa oleh muhammad saw hingga mencapai kejayaan
sains sampai abad pertengahan. Nilai kegunaan ilmu hanya dapat diartikan bagi
pencapaian tujuan hidup. Sedangkan pengetahuan dibutuhkan oleh manusia untuk
memecahkan setiap persoalan yang muncul disetiap kehidupan manusia untuk
mencapai tujuan hidup. Dalam Al-Qur’an
banyak firman yang mengutamakan ilmu pengetahuan dan sains dan
memberikan kedudukan yang tinggi kepada orang-orang yang berilmu pengetahuan.
Yang artinya”Allah mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan
diantara kamu dan beberapa derajat.[3]
1.
Q.S
Ali Imran ,3:18
شهدالله انه لا ا له ا لا هو و الملعكة واولوا العلم
قا عما با اقسط لا اله ا لا هؤ الحزيزالحكيم (18)
Artinya :
“Allah
menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain dia: demikian pula para malaikat dan
orang yang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain dia, yang
maha perkasa, maha bijaksana. Ayat ini untuk menjelaskan martabat orang-orang berilmu”
Kandungan Ayat:
Al Qur’an
berusaha mengangkat derajat manusia pada kedudukan yang tinggi dengan
memberikan kemampuan kepadanya untuk melihat dan memahami tanda-tanda yang
benar dari kebesaran Allah, kemudian memantulkan kembali atas kebesaran dan
kemahakuasaanya.
TAFSIR AYAT
Ø Allah bersaksi, bahwa tidak
ada tuhan kecuali dia, dan para malaikat serta orang-orang berilmu berdiri
dengan adil.
Yaitu Allah
menerangkan keesaan-Nya dengan mengemukakan bukti-bukti alam fisik yang ada
dicakrawala dan diri manusia sendir, disamping menurunkan ayat-ayat yang berisi
firman-firman Allah untuk mengemukaan keesaan-Nya itu. Dan para malaikat
memberikan kabar hal ini kepada rosul serta mereka bersaksi dengan kesaksian
yang dikuatkan oleh ilmu yang berasal dari waahyu atau ilham, dan ilmu itu pada
para nabi lebih kuat dari pada keyakinan-keyakinan lain. Dan orang-orang yang
berilmu mengabarkan keesaan Allah, menjelaskan dan bersaksi dengan kesaksian
yang berdasarkan bukti dan adil. Karena orang yang mengetahui sesuatu tidaklah
terlepas dari dasar dalil.
firmanya
“dengan adil” maksudnya ialah adil dalam keyakinan. Allah telah menetapkan
hukum-hukum ciptaanya berdiri pada prinsip keadilan. Barang siapa yang
memperhatikan hukum dan seluruh sistem yang begitu rumit pada alam ciptaanya,
maka akan jelas baginya keadilan Allah dalam bentuk yang amat sempurna dan
paling jekas. Maka tegakan Allah dengan keadilan pada setiap ciptaannya menjadi
bukti atas kebenaran kesaksianya.nya bahwa kesatuan sistem diseluruh alam ini menunjukan
keesaan penciptaanya. Kemudian Allah menegaskan bahwa dia semata yang tunggal
dalam ketuhananya dan tegak pada keadilan, dengan firman-Nya.
Ø tidak ada tuhan kecuali dia, Maha perkasa lagi Maha bijaksana.
Keperkasaan
menunjukan kesanggupan yang sempurna. Dan kebijaksanaan menisyaratkan
pengetahuan yang sempurna. Sedangkan kesanggupan tidak akan terwujud dengan
baik kalau tidak memiliki kemandirian dan kebebasa. Sedangkan keadilan tidak
akan terwujud dengan sempurna kalau tidak mengerti segala kepentingan dan
keadilan yang meliputinya. Barang siapa yang memiliki sifat seperti ini, tentu
tidak ada sesuatupunyang dapat mengalahkannya dalam menegagkan huku-hukum
keadilan, dan juga tidak akan menyimpang dalam menciptakan sesuatu dari
pengetahuan yang tepat.[4]
Allah telah
menjelaskan bahwa tiada tuhan selain dia.dengan segala ciptaanya ini pada
langit dan bumi, pada lautan dan daratan, pada tumbuh-tumbuhan dan binatang dan
segala alam semesta, Allah telah menjelaskan bahwa hanya dia yang mengatur.
Maka segala yang ada ini adalah penjelasan atau keesaan Allah dari Allah,
menunjukan bahwa tiada tuhan melainkan Allah. “Demikianpun malaikat” dalam
keadaan mereka yang ghaib itu semuanya telah menyaksikan, telah memberikan
syahadah bahwa tidak ada tuhan melainkan Allah,. Sebab malaikat adalah sesuatu
kekuatan yang telah diperintahkan oleh tuhan melaksanakan perintahnya, taat dan
patuh mereka menjalani perintah itu.kita tidak dapat melihat malaikat dalam
bentuk rupa yang asli, tetapi kita dapat merasakan adanya. Diatara malaikat itu
ialah jibril yang diperintahkan tuhan menyampaikan wahyu kepada nabi muhammad
SAW dan wahyu itu telah tercatat menjadi Al-Qur’an dan Al Qur’an telah
terkumpul menjadi mushhaf. Oleh sebab
itu didalam tangan kita sendiri kita telah mendapat salah satu bekas shahadah
dari malaikat. “Dan orang-orang yang berilmu”pun telah menyampaikan syahadahnya
pula, bahwa tidak ada tuhan melainkan Allah. Bertambah mendalami ilmu bertambah
pula menjadi kesaksian dia bahwa alam ini ada bertuhan dan tuhan itu hanya
satu, yaitu Allah dan tidak ada tuhan yang lain, sebab yang lain adalah makhluk
belaka. “bahwa dia berdiri dengan keadilan” yakni setelah Allah menyaksikan
dengan qodrat-iradatny, dan malaikat menyaksikan dengan ketaatnya, dan manusia
yang berilmu menyaksikan dengan menyelidikan akal bahwa tidak ada tuhan
melainkan Allah, maka timbul pula kesaksikan Allah berdiri dengan keadilan.
Bahwa tuhan pencipta Alam dengan perseimbangan dan tuhan menurunkan perintahnya
dengan adil, serta seimbang.
Imam Ghazali didalam
kitab Al-llmi dan didalam kitabnya “Ihya Ulumudin” telah memahkotai karangannya
itu ketika memuji martabat ilmu bahwa ahli ilmu yang sejati telah diangkat
tuhan, yaitu dengan tuhan dan dekat dengan Allah. Pada dua nama, Aziz dan
hakim, gagah dan bijaksana, terdapat lagi keadilan tuhan Allah itu gagah
perkasa, hukumnya keras tangguh dan penuh kedisiplinan tetapi dengan kegagahan itu di imbangi dengan
sifatnya yang lain: yaitu bijaksana. Sehingga Allah tidak pernah berlaku
sewenang-wenang karena kegagahan
perkasaanya dan tidak pernah pula bersikap lemah karena kebijaksanaanya.
Diantara gagah dan bijaksana itulah terletak keadilan.[5]
Persaksian paling mulia yang bersumber dari raja yang maha agung dan dari
para malaikat serta orang-orang yang berilmu, atas suatu perkara yang paling
mulia yang disaksikan oleh pengesaan Allah dan penegakannya akan keadilan. Hal
itu mengandung persaksian atas syariat atas ajaran dasar dan pondansi adalah
tauhidullah dan pengesaannya dengan ibadah dan pengakuan akan keesaannya
dalam sifat-sifat keagungan, kesombongan kesabaran, keperkasaan dan kemuliaan.
Juga dengan sifat dermawan, kebajikan, kasih sayang dan perbuatan baik dan
keindahan dengan kesempurnaanya yang
mutlak yang tidak dapat dihitung oleh seseorang baik dari makhluk untuk melihat
sedikit pun maupun dari mereka mencapainya dari mereka sampai kesanjungannya.[6]
b.
Dalil
orang yang berilmu dalam keesaan Allah
طلب العلم فر يضة علي كل مسلم
Artinya :” menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”
Allah
menjelaskan tentang wahdaniyat Allah, dengan menegakkan bukti-bukti kejadian
yang berada dicakrawala luas, dalam diri orang yang berilmu yang mencerminkan
hal tersebut, para malaikat memberitahukan tentang para rosul untuk mensaksikan
dengan kesaksian yang diperkuat ilmu, orang-orang yang berilmu telah
memberitakan tentang kesaksian ini, dan menjelaskan dengan keesan Allah SWT
yang disertai dalil dan bukt. Sebab orang yang mengetahui sesama tidak
membutuhkan hujjah lagi dan mengakuinya.
Makna Al –Qisu artinya dengan keadilan dalam akidah, ketahuidan hal
ibadah dan akhlak dan amal adalah adanya keseimbangan antara kekuatan rohaniyah
dan jasmaniyah.
Keesan Allah SWT yang berdasarkan keadilan semuanya merupakan bukti
kebenaran kesaksianya. Sebab adanya kesatuan dan persatuan tantanan sistem alam semesta ini menunjukan
kesatuan penciptanya.
Kemudian
Allah SWT mengukuhkan dirinya yang menyendiri dengan sifat wahdaaniyah dan menciptakan dengan keadilan melalui
firmannya.
لا اله هو العزيز الحكيم
Sifat perkasa mengisyaratkan pada kesempurnaan kekuasaan dan sifat
bijaksanaan mengisyarakatkan adanya kesempurnaan ilmu pengetahuan.[7]
c.
Kedudukan
ilmu pengetahuan dalam kehidupan
a)
Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu
pengetahuan.
b)
Iman
akan mengangkat derajat ilmu, demikian juga ilmu akan mengangkat derajat iman.
c)
Orang
yang berilmu akan diberikan Allah kedudukan yang mulia.
d)
Allah
menegakan keadilan
e)
Dan
Allah meninggikan orang-orang yang berilmu diantara mereka, khususnya
derajat-derajat dalam kemuliaan dan ketinggian dalam kedudukan.
A2. Derajat Orang
Berilmu (QS. Al-Mujadalah,58:11)
A3. Hikmah
Anugerah Allah swt. (QS. Al-Baqarah,
2:269)
a.
Hakikat Ilmu Hikmah
Allah
memberikan ilmu yang berguna yang bisa membangkitkan kemauan kepada
hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, sehingga ia dapat membedakan mana yang
benar dan mana yang salah, lalu dengan mudah dapat membedakan antara ilham yang
datang dari Allah dan bisikan setan.[9]
Hikmah
didalam Al-qur’an ada dua macam yaitu yang disebutkan dengan sendirian dan yang
disusuli dengan penyebutan al-kitab. Yang disebutkan sendirian ditafsiri
nubuwah, tapi ada pula yang menafsiri ilmu Al-Qur’an. Menurut Ibnu Abbas R.A,
[1]
Afzalur Rahman, Al-Qur’an sumber ilmu pengetahuan,(jakarta,PT Rineka Cipta,
2000),hlm.8
[2] Hasan
Basri jumin, Sains dan teknologi dalam islam, (jakarta, PT Raja grafindo
persada,2012),hlm.13
[3] Heri
Setiawan,M.Hum, Pengantar studi ilmu islam,(Bandung,Pustaka Kasidah
Cinta,2011),hlm.139
[4] Ahmad
Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi,(yogyakarta, sumber ilmu,
1986),hlm.151-153
[5] Prof.Dr.hamka, Al-Azhar, (jakarta:pustaka
panjimas,1983),hlm.128-130
[6]
Syaikh Abdurohman,Tafsir ALQur’an,(jakarta,Dar Ibn Al jauzi,2016).hlm.417
[7]Bahrun
Abu bakar,AlTafsir(Semarang,PT karya Toha Putra,1992)Hlm.206-207.
[9]
Syekh Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tarjamah Tafsir Al-Maraghi, (Yogyakarta:
Sumber Ilmu, 1986), hlm. 49
Tidak ada komentar:
Posting Komentar